Jumat, 28 Mei 2010

5 Gangguan Kesehatan bagi Pengidap Anoreksia



Obsesi memiliki bentuk tubuh kurus yang menyebabkan kematian, berkali-kali terjadi. Kasus terakhir menimpa aktris Brittany Murphy, yang mendadak tewas saat berada di kamar mandi, Desember lalu. Awalnya keluarga mengira Brittany mengalami serangan jantung. Namun pada 4 Februari lalu, kepolisian merilis penyebab kematian bintang Uptown Girl ini, yaitu keracunan sejumlah obat, pneumonia, dan anemia yang disebabkan kekurangan zat besi. Brittany juga diduga mengalami eating disorder.

Perempuan memang sebaiknya lebih menghargai tubuhnya. Tidak ada salahnya punya keinginan memiliki tubuh langsing. Namun yang perlu ditekankan adalah makan dengan sehat. Bila Anda sudah mengidap anoreksia atau kelainan makan lainnya, Anda juga akan mengalami masalah kesehatan lain seperti:

* Kesuburan
Memiliki berat badan yang kurang bisa menyebabkan kemandulan atau gangguan kesuburan. Sedangkan terlalu gemuk bisa menyebabkan hormon kesuburan bekerja lambat. Namun kabar baiknya, kesuburan akan kembali datang jika tubuh kita kembali sehat. ''Saat tubuh tidak mengalami gangguan kesehatan, hormon kesuburan akan kembali normal,'' ujar Walter H Kaye MD, direktur program gangguan makan, di University of California, San Diego.

* Gangguan jantung
Penyakit anoreksia akan membuat jantung tidak berfungsi dengan baik, melemah, dan membuat tubuh jadi dehidrasi. Cairan dalam tubuh menjadi tidak seimbang, dan akhirnya menyebabkan serangan jantung. Namun kerusakan ini bisa kembali pulih saat tubuh kita kembali ke berat normal.

* Gigi tanggal
Mereka yang kekurangan berat badan memang seringkali memiliki gangguan pada gigi mereka. Gigi jadi mudah tanggal dan rapuh. Hal ini disebabkan asam dari lambung akan naik ke tenggorokan, dan dilanjutkan ke mulut. Akibatnya mulut memiliki tingkat keasaman yang tinggi dan menyebabkan gigi rusak, berlubang, bahkan tanggal.

''Kalau hal ini terjadi di usia 30-an, tentunya Anda akan terlihat aneh dengan gigi yang ompong. Bisa Anda bayangkan?'' ungkap Jennifer Nardozzi, Psi, manager pelatihan nasional untuk The Renfrew Center, klinik penanggulangan gangguan makan.

* Perut kembung atau membuncit
Gangguan makanan bisa menyebabkan juga penyakit di saluran pencernaan, mulai gangguan lambung atau maag, hingga kesulitan untuk buang air besar. Pengidapnya juga mengalami kesulitan untuk menelan. Wajah mereka akan terlihat amat pucat. ''Penyakit ini juga bisa membuat kelenjar liru berproduksi lebih banyak, dan membuat mulut menjadi bau. Muka terlihat membengkak, dan bagian pipi terlihat kembung,'' ujar Nardozzi.

* Overdosis
Sejumlah obat diracik dan ditakar sesuai dengan berat badan orang normal, sehingga ketika ketika penderita anoreksia menelan obat-obatan itu secara tidak langsung menjadi overdosis. ''Setiap orang harus membedakan antara berada dalam keadaan yang menarik (langsing) ataukah sedang mengalami suatu penyakit,'' tegas Lynn Grefe, CEO The National Eating Disorder Association.

Rabu, 26 Mei 2010

Memilih Baju Hamil yang Benar

Hari ini saya berencana membeli BAJU HAMIL yang baru, bukan karena baju kemarin rusak atau sudah kesempitar, namun hanyak pengen nambah koleksi saja,hehe. Sebelum membeli baju yang baru biasanya saya selalu menetapkan standar dasar untuk pemilihan baju itu. Apa saja standar yang saya tetapkan?

1. Tentu saja baju itu harus nyaman dan adem, walaupun pas belinya saat ada GROSIR BUSANA MUSLIM.
2. Tidak ketinggalan jaman, gak maukan memakai baju yang sudah old fashion.
3. Sesuai dengan selera saya,hehe

Itu saja criteria yang saya tetapkan saat membeli baju hamil yang baru, bahkan untuk keperluan yang lain saya juga memakai standar ini.

Minggu, 23 Mei 2010

Berbagi Tips dan Triks Gratis

Dapatkan Tips dan triks Gratis untuk menghasilkan Uang Dari Blog. Di
www.uangdariblog.com anda akan menemukan banyak sekali tips yang akan
membatu anda mendapatkan penghasilan pertama dari blog. Semua tips dan
trik itu bisa anda dapatkan dengan gratis tanpa mengeluarkan uang
sepeserpun. Selain dari Di www.uangdariblog.com, anda juga bisa
mendapatkan berbagai trik di www.ayoberbagi.com.

Sabtu, 22 Mei 2010

Seks yang Mengundang Maut

PERNAH dengar orang mati di pantai gara-gara “bermain” di dalam mobil, kan? Itu, sih bodoh! Kalau yang satu ini, pasti jarang ada yang dengar dan jangan sampai Anda alami!

Kriiingggg!!!
“Halo!”
“Ka… tolong! Ke sini… Cepat!!!
“Halo!!! Halo! Hallooooo…!!!
Panik.

Buru-buru saya masuk ke dalam mobil. Masih pakai daster pula! Jam dua pagi, sih! Segera saya berangkat ke daerah Bintaro, tempat teman saya itu tinggal! Untungnya saya masih tinggal di BSD, jadi jaraknya nggak terlalu jauh. 15 menit pun sudah sampai di depan rumahnya.

“Ada apa? Kenapa?”
“Ndak tahu, Bu! Saya tadi Cuma dengar bapak teriak minta saya nunggu di sini. Katanya, ibu mau datang.”
“Kamu bener nggak tahu?!”
“Nggak!”
Waduuuhhhh! Makin panik.

Saya segera masuk dan langsung menuju kamar tidurnya. Habis ke mana lagi coba? Dia nggak ada di mana-mana, pasti ada di dalam situlah!

Tok tok tok…
“Masuk! Nggak dikunci! Masuk…!!!
Saya pun masuk.
Aduuuuhhhhh!!!!

Dua orang tanpa busana, saling bertumpukan, tapi dua-duanya pucat pasi! Tubuh mereka tegang dan kaku! Nggak beres, nih! Ganjet, gila!!!

Sebetulnya saya juga kurang yakin apa benar itu ganjet. Belum pernah lihat, sih! Namun konon menurut cerita orang-orang, ya seperti itu. Yang pasti, saya segera menelpon rumah sakit terdekat untuk mengirimkan tim medis. Untunglah mereka segera datang dan memberikan pertolongan. Akhirnya pasangan suami istri itu pun bisa lepas dan wajahnya dapat berubah warna menjadi normal kembali. Hanya nafasnya saja yang masih belum stabil. Perlu waktu beberapa lama untuk menetralisir keadaan mereka. Setelah itu, mereka langsung diangkut ke rumah sakit.

Beberapa hari kemudian, setelah dinyatakan sembuh tentunya, sang suami mengajak saya ngopi di salah satu tempat dekat tempat saya bekerja. Ingin menyelesaikan masalah, katanya.

Saya tidak pernah menduga hal ini bisa sampai terjadi, tetapi sejak awal pernikahan mereka, bahkan sewaktu mereka masih pacaran pun saya sudah takut kalau-kalau akan ada terjadi sesuatu yang nggak beres dalam hubungan seksual mereka. Masalahnya, sang istri pernah diperkosa oleh ayah tirinya. Bukan hanya sekali tapi berulang-ulang. Malah pernah sampai menggugurkan kandungan segala. Saya yakin akan ada pengaruh yang besar terhadap kejiwaannya. Soalnya, dia suka berkelakuan aneh menurut saya. Sering murung dan bermuram durja. Menangis tanpa alasan yang jelas. Mindernya? Buanget!!!

Terjadinya kejadian ini pasti berhubungan erat dengan trauma yang dialaminya itu. Bisa jadi dia tiba-tiba teringat kejadian saat dia perkosa, lalu stres dan tegang. Akibatnya, seluruh ototnya menjadi kaku, termasuk otot di sekitar kemaluannya hingga tulang pinggul dan tulang kemaluannya menjadi “mengunci”. Terkuncilah penis sang suami di dalam sana! Kebayang sakitnya kayak apa! Kalau tidak segera ditolong… maut bisa menjemput, lho!

Masih ingat sewaktu mereka belum menikah, saya dan teman-teman dekatnya pernah membahas masalah ini.

“Apa kamu siap menerima semua resikonya?”
“Siap! Siap banget! Saya sangat mencintainya. Saya tidak bisa hidup tanpa dirinya. Saya seratus persen siap!”
Ya sĂștralah kalau siap! Siapa yang berani melarang?

Setelah bicara panjang lebar, akhirnya dia sepakat untuk membawa istrinya ke dokter jiwa. Tidak ada lagi jalan keluar. Ini satu-satunya. Pasti akan memakan waktu yang tidak sebentar, tetapi saya bilang, “Kalau kamu memang mencintainya, kamu pasti akan selalu memberikan yang terbaik untuknya.”

Dua tahun berselang, mereka sepakat untuk bercerai. Sang suami awalnya tidak menghendaki, biarpun dia “puasa” terus, tetapi sang istri mendesak. Dia tidak sanggup, katanya. Lebih berat baginya untuk bisa menyembuhkan diri di mana pada saat yang bersamaan dia harus diderita rasa bersalah yang amat besar terhadap suami yang amat mencintai dan menyayanginya.

Saya tidak bisa bicara apa-apa. Saya hanya bisa mendoakan saja supaya mereka diberikan yang terbaik. Itu saja

Jumat, 14 Mei 2010

Istriku Lesbian

WOW! Aneh tapi nyata, mungkin itu seharusnya judul dari tulisan ini. Ini bukan sekedar selingkuh biasa, tetapi lebih dahysat lagi. Selingkuh dengan sesama jenis. Yang lebih mencengangkannya lagi, disetujui pula oleh suaminya….

Pernah dengar selentingan tetapi tidak terlalu percaya sampai akhirnya kejadian. Seorang sahabat dari bangku kuliah, Nanda namanya, yang baru kawin enam bulan yang lalu, memberikan sebuah pengakuan yang mengejutkan. Dia mengaku punya pacar seorang perempuan cantik bernama Saskia sejak dua bulan lalu dan sudah mendapat persetujuan dari suaminya.

Tadinya saya pikir dia hanya mengada-ada saja, tetapi dari wajahnya yang tampak serius, sepertinya dia tidak bohong. Apalagi kemudian dia memperkenalkan Saskia kepada saya. Tidak hanya itu, dia pun memperkenalkan saya kepada beberapa wanita anggota “geng” mereka yang menganut aliran sepaham.

Rasa iba yang sangat besar muncul dari lubuk hati yang paling dalam mengingat apa yang terjadi akibat rasa sepi di hati Nanda. Kemudian muncul rasa takut dan curiga yang tidak kalah besarnya. Jangan-jangan… dari dulu dia lesbian! Padahal kita dulu suka tidur bareng, ganti baju rame-rame, peluk-pelukan… TIDAKKKKK !!!!

Ya Tuhan, apa yang harus saya lakukan? Bagaimana saya harus bersikap? Tolong berikan saya jawaban agar mulut yang terkunci rapat dan tubuh yang sepertinya sudah tak bertulang ini bisa berfungsi lagi.

Ayo Mariska! Semangat-semangat!! Berpikir positif! Positif… positif… positif…

Setelah berhari-hari gelisah memikirkan apa yang terjadi, akhirnya saya mendapat jawaban yang saya anggap dari Tuhan. Sebuah buku yang tergeletak di atas meja kerja saya terbuka, dan sepenggal kalimat langsung menarik perhatian saya. “…Ideal society is a drama enacted in the imagination…” The Life of Reason, George Santayana, halaman 150. Bagi saya, artinya adalah tidak mungkin bagi kita untuk selalu mendapatkan segala sesuatunya sesuai dengan yang kita inginkan. Semuanya hanya bisa terwujud di kepala saja, sedangkan kenyataannya kita harus lebih realistis.

Bukan hak saya untuk menilai dia, begitu juga memaksanya untuk berubah. Adalah kewajiban saya untuk membuka mata hati dan pikirannya. Biarpun kecil usaha yang saya lakukan, tetapi lebih baik daripada duduk diam dan berpangku tangan. Akhirnya saya pun memutuskan untuk memberi sedikit pencerahan seks kepada “geng aneh” ini.

Di hari yang telah ditentukan bersama, saya pun mengunjungi sebuah cafe tempat geng ini biasa berkumpul. Rasanya sedikit aneh. Dari rumah siap-siap akan bertemu dengan wanita-wanita tomboy berdandan ala punk dengan tindikan di mana-mana, tapi kok yang ada justru kaya ibu-ibu arisan. Cantik-cantik, rapih-rapih, harum-harum, dan genit-genit. Ngerumpi sana, ngerumpi sini. Terlalu biasa untuk dibilang aneh.

Setelah basa-basi, “ceramah” pun dimulai. Pertama-tama, saya bertanya, “Siapa di antara ibu-ibu, mbak-mbak, sekalian yang merasa lebih aman menjadi lesbian dibandingkan selingkuh dengan banyak pria?”. Persis seperti dugaan saya, 100% dari mereka yang jumlahnya mendekati angka 50 orang ini menjawab dengan yakin, “Pastinya, dong!

Saya pun melanjutkan dengan penjelasan bahwa apa yang mereka pikir itu tidak sepenuhnya benar. Seorang lesbian pun memiliki resiko tertular penyakit kelamin, HIV, dan AIDS. Terlebih lagi jika mereka tetap melakukan hubungan seks dengan suami-suami mereka. Resikonya jadi dua kali lebih besar lagi.

Seks oral yang mereka biasa lakukan pun memiliki resiko yang tinggi bila tidak mengindahkan kebersihan mulut dan tubuh. Mulut dan tangan yang kotor bisa membawa virus, bakteri, dan kuman penyebab penyakit lainnya masuk kedalam tubuh. Penyakit kelamin seperti herpes pun bisa tertular lewat cara ini. Untuk lebih mendramatisir, saya minta mereka membayangkan luka seperti bisul akibat herpes yang biasanya ada di alat vital, pindah ke mulut dan seputar bibir mereka. Hehehe… banyak yang stress!

Resiko terjadinya kerusakan alat vital dan organ seksual lainnya akibat penggunaan “alat bantu” seperti dildo dan vibrator dengan tidak benar juga bisa terjadi. Bayangkan bila harus dilakukan vagina plasti hanya karena dinding vagina menjadi rusak dan robek seperti saat melahirkan anak. “Aduh, sakitnya!” teriak salah satu dari mereka.

Belum lagi efek psikologis yang timbul akibat tekanan dari luar, kurangnya rasa percaya diri, rasa bersalah, benci, dendam, dan masalah lainnya yang berakumulasi menjadi satu. Membohongi diri sendiri memiliki efek psikologis negatif yang besar terhadap kejiwaan seseorang. Tidak sedikit yang akhirnya merasa dikucilkan, stress, dan buntut-buntunya masuk Rumah Sakit Jiwa. Semua cuma diam dan ada juga yang terbengong-bengong.

Perkembangan psikologis anak pun harus dipikirkan. Kita sebagai orang tua tidak boleh egois, karena bagaimanapun juga, seberapa pintarnya kita menutupi masalah, seorang anak tetap bisa “merasa”. Bila ada sesuatu yang tidak benar dan salah dalam sebuah rumah tangga, seringkali anak yang akhirnya menjadi korban terparah.

Saya tidak meminta mereka untuk kemudian segera berubah pikiran, tetapi saya minta mereka untuk merenung sejenak apa yang telah dibahas sebelumnya. Apapun keputusan yang mereka ambil, tetap akan saya hargai. Toh, semua resikonya mereka yang harus tanggung sendiri.

Sebuah pelajaran yang tak ternilai artinya bagi saya. Semoga juga bisa memberikan banyak manfaat bagi semua

Senin, 03 Mei 2010

Ukuran Bukan Masalah, Sayang!

BercumbuBIARPUN besar tapi tak mampu menggetarkan dunia, lebih baik kecil tapi benar-benar membuat bumi berguncang!

Jadi ingat sebuah film independen karya sutradara Brazil. Judulnya lupa, namanya pun lupa. Sudah lama, sih! Namun isinya sangat membekas di hati saya. Ceritanya tentang kehidupan pelacur jalanan di sana. Ada banyak kisah pelacur yang berbeda-beda, namun yang paling membekas adalah cerita tentang seorang pelacur “berpengalaman” yang memiliki banyak sekali pelanggan. Antriannya puanjaaaanggg banget!

Diperlihatkan bahwa pria-pria yang ngantri, datang dari berbagai kalangan yang berbeda. Ada yang tua, ada yang masih remaja, ada yang ganteng, kebanyakan, sih, jelek, ada yang bersih, ada yang kumal dan kusam, ada yang bertubuh besar dan kekar, ada juga yang kurus kerempeng seperti orang penyakitan. Wah, pokoknya macam-macam, deh, bentuk dan jenisnya.

Sang sutradara sangat pintar membuat penontonnya penasaran dengan memberikan sepenggal potongan cerita saja yang kemudian bersambung dan terputus lagi. Sepertinya dia sengaja membuat penontonnya menduga-duga siapa gerangan pria yang berhasil membuat pelacur itu mencapai kepuasan? Dan dia berhasil. Saya sudah menebak yang ini, teman saya yang itu, sampai kami berdebat segala. Hehehe…

Ternyata, di penghujung cerita, ditunjukkanlah bahwa pemenangnya adalah…. Jreng-jreng… Seorang pria gendut, kumal dan kusam, penuh dengan keringat, dan botak pula! Huahahahaha…. Siapa yang sangka coba?!! Dan sambil tersenyum, pelacur itu pun menolak bayaran dari pria gendut itu sambil berkata, “Kamu benar-benar tahu bagaimana caranya!” Wuiiiihhhhhhh!!!!! Hebat banget, ya! Pelacur senior saja bisa sampai bilang begitu coba!

Pria bertubuh amat sangat tambun itu sepertinya tidak mungkin punya ukuran penis yang besar. Malah kayaknya dia kerepotan kalau harus melihat penisnya sendiri. Di mana, ya? Apa masih ada? Di sini bukan? Hehehe… Soalnya, ada benarnya mitos tentang pria gendut memiliki ukuran penis yang kecil. Sebetulnya bukan kecil, tetapi menyusut. Lemak membuat pangkal penisnya menjadi “bengkak” dan menutupi sebagian pangkalnya. Makanya, jadi kelihatan lebih pendek. Padahal nanti kalau berat badannya turun pun akan “memanjang” lagi dan bila berat badannya sudah normal, ukurannya pun akan normal kembali.

Ya sudahlah, kita kembali ke topik utama. Kekhawatiran pria akan ukuran penisnya seringkali sangat mengkhawatirkan. Masalahnya, jadi nggak pede dan justru membuatnya semakin terpuruk. Makin tidak memuaskan, maksudnya. Padahal rasa percaya diri itu penting banget, lho! Membuat pria jadi lebih keras, lebih lama, dan lebih berani mencoba berbagai macam posisi berbeda. Inilah yang bisa membuat dunia wanita berputar!!!

Ukuran penis pria Asia yang normal adalah antara 4 cm sampai dengan 15 cm saat ereksi. Kalau kurang dari 4 cm, baru boleh bingung! Kalau lebih dari 15 cm, jangan berbangga hati dulu! Bila tidak tahu posisi yang benar, bukannya bikin pasangan Anda bahagia, tapi justru merasa kesakitan dan tersiksa. Selama Anda masih berukuran normal, tidak perlu khawatir. Pasti bisa membuat pasangan Anda orgasme! Titik syaraf yang paling sensitif di dalam vagina cuma berjarak sekitar 3 cm dari pintu masuknya, kok! Nyampe, dong! Makanya, jangan buang waktu dan energi hanya buat mikirin ukuran saja, mendingan juga memikirkan teknik dan caranya. Ya, kan?

Perlu digarisbawahi bahwa posisi dan cara yang bisa membuat Anda cepat puas belum tentu bisa membuatnya puas juga. Butuh penjajakan, eksperimen, dan komunikasi dengan pasangan Anda untuk bisa menemukan posisi dan “titik” yang paling pas bagi kalian berdua. Jangan takut salah! Terus saja mencoba! Nanti juga kalau sudah ketemu slag-nya, pasti bakal heboh! Bukan hanya dunia dan bumi yang bergetar dan berguncang. Kalau perlu seluruh alam semesta dan jagat raya ini pun turut bergoyang!!! Hehehe…