ADA mekanisme rekayasa sendiri yang saya terapkan di diri, sedari kecil dulu. Tiada seorang pun yang mengajarinya. Tentu bukan pula hasil riset berdata Ilmiah saya pribadi apa pun. Bagaimana mungkin, sebab itu sedari saya berumur 6 tahun-an.. kelas I SD Negeri I Nabire, Papua.. [..belum mengenal perdebatan sengit soal Ilmiah tidak Ilmiah.. soal up to date versus kuno... etc], ketika vonis alergi (genetis) mulai tampakkan segala rona geliatnya di raga ini. Raga gatal menyengat di sekujur raga seiring munculnya “bruntusan” bercak kemerahan, setiap usai menyantap sea food apa pun kegemaran sang diri ini, juga telur.
Sementara, prosesi rutinitas menenggak obat pereda sensasi gatal, seperti pula ritual menenggak obat Malaria andai sedang terserang.. terkategori detik menyesakkan, menyebalkan, sekaligus traumatik bagi diri. Spontan muntah setelahnya selalu saja membayang. Yang karenanya, lalu, oleh berjalannya waktu, sang benak ini (yakini) temukan “resep” ampuh menangkal sensasi rasa sakit, saat bertandang di raga. Setidaknya berlaku bagi penerapannya di diri sendiri. Secara diam-diam, pada awalnya. Dalam pengembangannya, sensasi rasa sakit apa pun berhasil sang diri atasi sendiri, tanpa perlu bersitegang dengan sang Mammi, karena enggannya diri ini menenggak obat tertentu yang belum tentu diri ini perlukan.. sedari diri ini masih berujud mungil, dulu.
[..maafin Irien ketika itu, Mom..]
Sstt..!! ..kali ini, saya ingin berbagi tentang kiat atasi rasa ‘tak enak apa pun di raga saya, salah satu ke”mbalelo”an saya, sedari masih mungil dulu. [Terimakasih Sahabat, bersedia menyimaknya..]
Setiap mulai merasakan rambatan geliat rona gatal dan sakit apa pun di raga ini, saya (diam-diam) tenangkan sukma saya. Saya bernafas perlahan.. menghela napas panjang……… lalu mengeluarkannya perlahan…….. Menghela napas panjang kembali……. dan keluarkannya lagi perlahan. Demikian seterusnya, hingga sukma saya terasakan adem & “meletak” (baca: tenang/diam).
Terus begitu, sambil mulai merasakan geliat sang benak.. perlahan mendengarkan setiap jerit sang diri yang muncul.. relakan diri menerimanya. Mulai berkonsentrasi penuh. Mem-fokus-kan pikiran pada area keluhan, satu demi satu.. dimulai dari yang terasa paling menyesakkan, menyakitkan. Merasakan setiap detailnya……. merelakannya dialami raga…. menerimanya.
Ajaib..!! Di sinilah letak detik penyembuhannya.
Setiap saya telah sampai di detik menerima sang rasa sakit, secara cepat terasakan rembetan melenyapnya geliat rasa tersebut, sekejap pergi dari diri.
Syukurku, pada Sang EMPU diri ini…
Andai area lain di raga ini sedang alami geliat sakit pula di detik yang sama.. prosesi “merasakan, merelakan, & menerima” tadi kembali saya upayakan. Ending-nya selalu sama. Meski rentang detik prosesi tuntasnya penyembuhan setiap area acapkali bervariasi, tergantung intensitas sakit, plus segala pendulum bathin yang sedang berlangsung di diri.
Anehnya lagi, itu lah satu-satunya yang saya terapkan di diri, atasi segala pendulum geliat rasa sakit yang mendera raga maupun hati ini………hingga detik ini. Tanpa obat sintetik apa pun. Tanpa keluar biaya. Tanpa repotkan Sesama. Tanpa pusing memikirkan “mengapa BISA”. Meski, dengan berjalannya waktu, sang diri ini dituntun, sampai di detik membaca, diterangkan.. oleh banyak sekali Guru & hasil riset valid, yang mampu menjelaskan mekanisme alamiah spontan diri saya tersebut, yang memang telah diteliti, dan terbukti Ilmiah.
Minggu, 28 Februari 2010
Jumat, 12 Februari 2010
Busana coklat padu gold elegant
Pernah ga anda membayangkan jika ke suatu resepsi nikahan memakai BUSANA MUSLIM perpaduan colat muda dengan gold, ini ide yang great. Resep itu saya peroleh dari pakar BAJU MUSLIM salah satu teman saya yang lulusan dunia fashion. Pertamanya saya hanya mendengar namun pas hari raya. Mulanya sebulan sebelum idul fitri saya membeli kain warna coklat muda dan dua meter kain warna gold atau kning soft keemasan gitu.
Saya pergi ke taylor ahli jarit baju muslim kebetulan saya sudah langganan. Ada satu jam saya disana dan akhirnya saya pulang. Dua minggu lagi pesanan saya diantar kerumah, lalu saya vitting. Dan waow sangat indah, yakni baju lengan panjang colkat muda dipadu celana panjang coklat muda. Pada sisi baju depannya ada belahan dan did lam belahan tersebut terdapat warna gold, bisa Anda bayangkan elegantnya. Dan jilbab saya berwarna coklat muda dengan ikatan antic berwarna gold. Dan saya menelepon teman saya berterima kasih dan minta solusi baru lagi untuk selanjutnya. Selamat mencoba.
Saya pergi ke taylor ahli jarit baju muslim kebetulan saya sudah langganan. Ada satu jam saya disana dan akhirnya saya pulang. Dua minggu lagi pesanan saya diantar kerumah, lalu saya vitting. Dan waow sangat indah, yakni baju lengan panjang colkat muda dipadu celana panjang coklat muda. Pada sisi baju depannya ada belahan dan did lam belahan tersebut terdapat warna gold, bisa Anda bayangkan elegantnya. Dan jilbab saya berwarna coklat muda dengan ikatan antic berwarna gold. Dan saya menelepon teman saya berterima kasih dan minta solusi baru lagi untuk selanjutnya. Selamat mencoba.
Rabu, 03 Februari 2010
Serangan VERTIGO.. Mengapa terjadi?
“Rencana tutup jam berapa, praktekmu, Rien? ..kau ada waktu? Ntar sore kujemput, yea.. Kita langsung ke Bogor. Adeq Vertigo. Ga’tau kenapa.. Tolong diperiksa. Kau sempat, khan”, suara Mas Rudy memecah heningku, di jeda waktu praktekku siang itu, di MENOX, Jl. Wolter Monginsidi 89.
Gejala VERTIGO (=Pusing Tujuh Keliling) menunjukkan kondisi yang sungguh tidak nyaman. Saat sedang membuka kedua mata, sang diri seakan-akan melihat segala benda di sekitarnya berputar. Dalam kondisi menutup mata, sang diri pun merasa seolah sedang berputar. Pada kondisi berat dapat disertai mual, bahkan muntah.. serta berkeringat dingin.
Menurut Ilmu Kedokteran Umum (=Barat), gejala VERTIGO dapat disebabkan oleh sumbatan liang Telinga luar, radang Telinga tengah, radang Telinga dalam, Meniere syndrome, mabuk perjalanan, perlukaan area Telinga & Otak, radang syaraf VIII atau Batang Otak, Multiple Sclerosis, kondisi penyakit dengan demam yang tinggi, pengaruh obat, pengaruh Alkohol, kelelahan, mau pun alergi.
Penggolongan, menurut Akupunktur:
1. VERTIGO karena Energi Yang Hati yang berlebihan. Umumnya terjadi kondisi vertigo yang semakin menjadi-jadi dalam keadaan sedang marah. Selanjutnya, sang diri menjadi mudah tersinggung, muka & matanya memerah, Telinga berdenging, merasakan pahit di dalam mulut, mengalami gangguan dalam mimpi, dengan kondisi otot Lidah yang memerah dilapisi selaput berwarna kekuningan pada permukaannya. Denyut nadinya tegang dan cepat.
2. VERTIGO karena Defisiensi Energi Qi & Darah. Gejala utamanya berupa vertigo yang diikuti dengan penampakan pucatnya sang diri, merasa lelah, lesu, berdebar-debar, sulit tidur, bibir & kuku memucat, serta denyut nadi kecil & lemah. Umumnya diderita pada kondisi baru saja usai menderita sakit keras & kronis, mau pun setelah banyak kehilangan Darah, yang semakin menjadi-jadi keluhan vertigo-nya setelah bekerja keras. Pada kasus yang berat, sang diri dapat hingga pingsan. Hilang kesadarannya.
3. VERTIGO karena sumbatan Lembab dari Dalam. Umumnya dialami plus rasa “berat” di Kepala, rasa “tertekan” di dada, mual, banyaknya riak, kurang napsu makan, serta selalu merasa mengantuk. Selaput permukaan Lidahnya berwarna putih & lengket. Denyut nadinya lembut & bergelombang.
VERTIGO tetaplah gejala. Ia diderita lantaran sekian deret kemungkinan Etiologis, plus Patogenitas yang beragam, bervariasi. Penanganannya pun tentu HARUS berdasarkan hasil Diagnosa atasnya yang TEPAT, agar dapat tertanggulangi TUNTAS. Pengobatan yang dilakukan hanya di batas “penyingkiran gejala yang dikeluhkan” hanya akan menggiring sang diri pada kondisi “diobati sementara”. Sesaat saja, sembuhnya. Tidak tuntas. Pada tipe vertigo tertentu, sang diri dapat terkungkung dalam pendulum “vertigo lagi… vertigo lagi, dee..” Semakin memusingkan, PASTI..!
Gejala VERTIGO (=Pusing Tujuh Keliling) menunjukkan kondisi yang sungguh tidak nyaman. Saat sedang membuka kedua mata, sang diri seakan-akan melihat segala benda di sekitarnya berputar. Dalam kondisi menutup mata, sang diri pun merasa seolah sedang berputar. Pada kondisi berat dapat disertai mual, bahkan muntah.. serta berkeringat dingin.
Menurut Ilmu Kedokteran Umum (=Barat), gejala VERTIGO dapat disebabkan oleh sumbatan liang Telinga luar, radang Telinga tengah, radang Telinga dalam, Meniere syndrome, mabuk perjalanan, perlukaan area Telinga & Otak, radang syaraf VIII atau Batang Otak, Multiple Sclerosis, kondisi penyakit dengan demam yang tinggi, pengaruh obat, pengaruh Alkohol, kelelahan, mau pun alergi.
Penggolongan, menurut Akupunktur:
1. VERTIGO karena Energi Yang Hati yang berlebihan. Umumnya terjadi kondisi vertigo yang semakin menjadi-jadi dalam keadaan sedang marah. Selanjutnya, sang diri menjadi mudah tersinggung, muka & matanya memerah, Telinga berdenging, merasakan pahit di dalam mulut, mengalami gangguan dalam mimpi, dengan kondisi otot Lidah yang memerah dilapisi selaput berwarna kekuningan pada permukaannya. Denyut nadinya tegang dan cepat.
2. VERTIGO karena Defisiensi Energi Qi & Darah. Gejala utamanya berupa vertigo yang diikuti dengan penampakan pucatnya sang diri, merasa lelah, lesu, berdebar-debar, sulit tidur, bibir & kuku memucat, serta denyut nadi kecil & lemah. Umumnya diderita pada kondisi baru saja usai menderita sakit keras & kronis, mau pun setelah banyak kehilangan Darah, yang semakin menjadi-jadi keluhan vertigo-nya setelah bekerja keras. Pada kasus yang berat, sang diri dapat hingga pingsan. Hilang kesadarannya.
3. VERTIGO karena sumbatan Lembab dari Dalam. Umumnya dialami plus rasa “berat” di Kepala, rasa “tertekan” di dada, mual, banyaknya riak, kurang napsu makan, serta selalu merasa mengantuk. Selaput permukaan Lidahnya berwarna putih & lengket. Denyut nadinya lembut & bergelombang.
VERTIGO tetaplah gejala. Ia diderita lantaran sekian deret kemungkinan Etiologis, plus Patogenitas yang beragam, bervariasi. Penanganannya pun tentu HARUS berdasarkan hasil Diagnosa atasnya yang TEPAT, agar dapat tertanggulangi TUNTAS. Pengobatan yang dilakukan hanya di batas “penyingkiran gejala yang dikeluhkan” hanya akan menggiring sang diri pada kondisi “diobati sementara”. Sesaat saja, sembuhnya. Tidak tuntas. Pada tipe vertigo tertentu, sang diri dapat terkungkung dalam pendulum “vertigo lagi… vertigo lagi, dee..” Semakin memusingkan, PASTI..!
Langganan:
Postingan (Atom)
