Sementara, prosesi rutinitas menenggak obat pereda sensasi gatal, seperti pula ritual menenggak obat Malaria andai sedang terserang.. terkategori detik menyesakkan, menyebalkan, sekaligus traumatik bagi diri. Spontan muntah setelahnya selalu saja membayang. Yang karenanya, lalu, oleh berjalannya waktu, sang benak ini (yakini) temukan “resep” ampuh menangkal sensasi rasa sakit, saat bertandang di raga. Setidaknya berlaku bagi penerapannya di diri sendiri. Secara diam-diam, pada awalnya. Dalam pengembangannya, sensasi rasa sakit apa pun berhasil sang diri atasi sendiri, tanpa perlu bersitegang dengan sang Mammi, karena enggannya diri ini menenggak obat tertentu yang belum tentu diri ini perlukan.. sedari diri ini masih berujud mungil, dulu.
[..maafin Irien ketika itu, Mom..]
Sstt..!! ..kali ini, saya ingin berbagi tentang kiat atasi rasa ‘tak enak apa pun di raga saya, salah satu ke”mbalelo”an saya, sedari masih mungil dulu. [Terimakasih Sahabat, bersedia menyimaknya..]
Setiap mulai merasakan rambatan geliat rona gatal dan sakit apa pun di raga ini, saya (diam-diam) tenangkan sukma saya. Saya bernafas perlahan.. menghela napas panjang……… lalu mengeluarkannya perlahan…….. Menghela napas panjang kembali……. dan keluarkannya lagi perlahan. Demikian seterusnya, hingga sukma saya terasakan adem & “meletak” (baca: tenang/diam).
Terus begitu, sambil mulai merasakan geliat sang benak.. perlahan mendengarkan setiap jerit sang diri yang muncul.. relakan diri menerimanya. Mulai berkonsentrasi penuh. Mem-fokus-kan pikiran pada area keluhan, satu demi satu.. dimulai dari yang terasa paling menyesakkan, menyakitkan. Merasakan setiap detailnya……. merelakannya dialami raga…. menerimanya.
Ajaib..!! Di sinilah letak detik penyembuhannya.
Setiap saya telah sampai di detik menerima sang rasa sakit, secara cepat terasakan rembetan melenyapnya geliat rasa tersebut, sekejap pergi dari diri.
Syukurku, pada Sang EMPU diri ini…
Andai area lain di raga ini sedang alami geliat sakit pula di detik yang sama.. prosesi “merasakan, merelakan, & menerima” tadi kembali saya upayakan. Ending-nya selalu sama. Meski rentang detik prosesi tuntasnya penyembuhan setiap area acapkali bervariasi, tergantung intensitas sakit, plus segala pendulum bathin yang sedang berlangsung di diri.
Anehnya lagi, itu lah satu-satunya yang saya terapkan di diri, atasi segala pendulum geliat rasa sakit yang mendera raga maupun hati ini………hingga detik ini. Tanpa obat sintetik apa pun. Tanpa keluar biaya. Tanpa repotkan Sesama. Tanpa pusing memikirkan “mengapa BISA”. Meski, dengan berjalannya waktu, sang diri ini dituntun, sampai di detik membaca, diterangkan.. oleh banyak sekali Guru & hasil riset valid, yang mampu menjelaskan mekanisme alamiah spontan diri saya tersebut, yang memang telah diteliti, dan terbukti Ilmiah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar